Faktanya Tentang 'Patah Hati'

Posted by Pakar Bola

Image634760875370353750Sindrom 'patah hati' adalah sebuah keadaan dimana otot-otot jantung melemah, dan pembuluh darah tidak menunjukkan reaksi normal terhadap keadaan depresi.

Sindrom 'patah hati' yang juga dikenal dengan nama 'apical ballooning syndrome' (ABS) terjadi secara eksklusif pada wanita. Biasanya saat mereka mengalami peristiwa yang membuat depresi, seperti saat kehilangan pasangan. Pasien yang mengidap ABS mengalami penggelembungan pada ventrikel jantung sebelah kiri. Walaupun tanda-tanda ini hampir sama dengan 'serangan jantung', yaitu adanya rasa sakit pada bagian dada, namun arteri tidak menunjukkan adanya penyumbatan seperti pada serangan jantung pada umumnya.

Pada sindrom 'patah hati', jantung juga tidak benar-benar sakit atau terluka. Pasien biasanya akan kembali membaik setelah beberapa minggu. Untuk itu, hingga sekarang penyebab utama ABS masih tidak diketahui. Peneliti ingin mengetahui apa yang membuat wanita lebih rentan terkena sindrom 'patah hati' ini.

Penelitian kemudian dilakukan dengan meneliti 12 pasien yang terkena ABS selama enam bulan, 12 wanita yang tidak pernah terkena ABS, dan empat wanita yang pernah terkena serangan jantung.

Peneliti memberikan para peserta sebuah tes 'stres mental' dan mengawasi reaksi pembuluh darah mereka. Misalkan wanita-wanita itu harus menyelesaikan tes memori yang sangat rumit dan soal-soal matematika. Fungsi pembuluh darah mereka kemudian dipantau menggunakan alat, termasuk alat pengukur tekanan darah.

Hasilnya, pada pasien yang menderita ABS, pembuluh darah mereka tidak bekerja sebagaimana seharusnya ketika menghadapi stres. Ketika mengalami stres, pembuluh darah seharusnya membuka lebih lebar sehingga membuat darah yang mengalir ke jantung lebih banyak. Namun, pada penderita ABS, pembuluh darah malah mengerut, mengurangi suplai darah ke jantung, kata Dr Amir Lerman, seorang kardiologis di Mayo Clinic Rochester, Minnesota.

Para peneliti memperkirakan inilah penyebab dari sindrom 'patah hati'. Mereka berharap untuk mengadakan tes lanjutan untuk mengetahui siapa saja yang berisiko terkena penyakit ini.

"Saat ini, tak ada cara untuk mengidentifikasi para wanita ini (para penderita ABS)," kata Lerman seperti dilansir oleh My Healthy News Daily. "Kami berharap dengan mengembangkan penelitian ini kami bisa mengidentifikasi para pasien."